search engine

Saturday, July 18, 2009

visit my Gallery





Click here to see my another world : valscoLine



Read more...

PRESENTASI - TEKNIK KOMUNIKASI DENGAN AUDIENS

Presentasi yang biasa kita lakukan dalam rangka memaparkan tugas, prorposal atau seminar kita kepada orang lain, merupakan hal yang sering terjadi dalam masa perkuliahan dan hidup kita. Mempresentasikan sesuatu dituntut memiliki nilai penyampaian yang tinggi, karena dengan presentasi, audiens akan menerima informasi. Informasi yang disampaikan harus dapat dengan mudah diterima dan dimengerti oleh audiens.

Untuk mendapatkan perhatian dari audiens, cara yang paling efektif adalah dengan menemukan apa yang menjadi kebutuhan mereka dan mempersiapkan diri kita sebaik mungkin. Hal ini untuk mengantisipasi hal-hal yang penting pada saat saat berbicara dengan audiens. Ketika anda “terhubung” dengan audiens semua aliran energi mengalir antara anda dan audiens. Anda akan mendapatkan feedback yang positif dan rasa kepercayaan diri jika anda berhasil memperoleh perhatian audiens.

Bagaimana caranya agar kita terhubung dengan audiens? Pertama, pahami bahwa presentasi adalah interaksi dua arah seperti tanya jawab. Kedua gunakan teknik seperti cara dibawah ini. Perlu dicatat bahwa penggunaan teknik dibawah ini harus melalui penelitian tentang karakteristik audiens terlebih dahulu. Sebab jika anda mendesain presentasi anda untuk audiens yang tidak tepat, tingkat pengetahuan yang tidak tepat dapat dipastikan audiens anda akan bereaksi negatif.

Teknik untuk memperoleh atensi dari audiens dapat dilakukan pada keseluruhan waktu presentasi. Jika anda presentasi dalam waktu yang panjang (full day training season) pertimbangkan untuk menggunakan teknik ini setiap 20 menit sekali atau kita anda merasa kehilangan atensi dari audiens.

Teknik meraih atensi audiens

Pelajari background audies
* (usia, pendidikan, pengalaman etc)
* Fokuskan topik yang       paling diinginkan audiens.
* Pilihlah judul presentasi yang mencakup pada topik yang diinginkan audiens.
* Pastikan anda datang lebih awal disbanding audiens
* Pastikan fasilitas dan setting ruangan nyaman buat presentasi.
* Gunakan teknik pengenalan yang tepat dan relevan.
* Pastikan anda menampilkan body language yang menyatakan bahwa anda senang berada disini.
* Sapalah audiens
* Pastikan audiens dapat mendengar dan melihat anda.
* Komunikasikan tujuan anda dan pastikan anda merencanakannya dengan baik
* Selama presentasi:
o Tampilkan sisi positif dari diri anda dan tidak perlu mengucapkan kata-kata maaf.
o Pastikan suara anda cukup antusias
o Jangan cemberut dan murah senyum
o Ajukan pertanyaan
o Gunakan humor yang cukup
o Gunakan eye contact
o Jangan ragu untuk memuji audiens
o Bagikan yang menjadi perhatian audiens
o Gunakan teknik story telling, dengan cerita yang personal
o Berikan tugas atau sesuatu yang harus dikerjakan audiens
o Tunjukkan teknik mengatasi masalah
o Nyatakan sudut pandang anda
o Berbicaralah dengan menggunakan kosa kota sesuai dengan latar belakang audiens.
o Gunakan alat bantu seperti gambar dan makalah presentasi

Satu hal yang paling penting dalam presentasi adalah, kesiapan mental dan penguasaan materi presentasi... Selamat mencoba, khususnya untuk kelas Metopen TI UAJY yang akan presentasi hari Selasa 25 Nov 2008...

(Disadur dari berbagai sumber)

Read more...

TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL

Teknik Pengambilan Sampel


Teknik pengambilan sampel dapat dibedakan dalam dua dimensi: probability versus non-probability dan single-stage versus multi stage (Blaiki, 2000). Dimensi pertama, probability versus non-probability, mencerminkan tingkat kerandoman dari proses pemilihan sampel. Sedangkan dimensi kedua, menunjuk pada banyaknya tahap atau langkah dalam proses pengambilan sampel.


Single-stage probability sampling


pada single-stage probability sampling ini proses sampling dilakukan hanya satu tahap, dalam artian hanya menggunakan metode probability sampling tertentu sekali untuk menghasilkan sampel penelitian. Sebagai contoh, untuk mendapatkan 20 orang sampel dari populasi yang berjumlah 100 orang, peneliti menggunakan simple random sampling. Proses pengambilan sampel ini tidak digabungkan dengan teknik pengambilan sampel yang lain.


Beberapa metode yang termasuk probability sampling adalah sebagai berikut:


S    Simple random sampling


Simple random sampling adalah teknik pengambilan sampel yang dilakukan secara acak (random) sehingga setiap kasus atau elemen dalam populasi memiliki kesempatan yang sama besar untuk dipilih sebagai sampel penelitian. Pada contoh pemilihan 20 orang sampel dari populasi yang beranggotakan 100 orang, dengan teknik simple random sampling maka setiap orang pada populasi tersebut memilki peluang yang sama untuk menjadi satu dari 20 sampel yang dipilih.


Teknik ini memilki tingkat keacakan yang sangat tinggi, sehingga sangat efisien digunakan untuk mengukur karakter populasi yang memiliki elemen dengan homoginitas tinggi. Sedangkan untuk populasi yang memiliki elemen cukup hetergon, penggunaan teknik ini justru dapat menimbulkan bias.


Syarat penggunaan teknik sampling ini adalah, bahwa setiap elemen dari populasi harus dapat diidentifikasi. Elemen dari populasi tersebut kemudian disusun dalam suatu sampling frame, yaitu suatu daftar yang dapat menggambarkan seluruh elemen dari populasi. Keberadaan sampling frame ini sangat penting dalam teknik simple random sampling ini, karena proses pemilihan sampel akan menjadi lebih sederhana, cepat dan murah.


Prosedur penggunaan simple random sampling, diawali dari pembentukan sampling frame oleh peneliti. Selanjutnya, dari sampling frame tersebut dipilih sampel yang dilakukan secara acak hingga terpenuhi jumlah sampel yang dibutuhkan. Proses pemilihan sampel ini juga dapat memanfaatkan a table of random numbers.


>   Systematic sampling


Teknik systematic sampling ini memiliki kemiripan prosedur dengan teknik simple random sampling. Oleh karena itu, systematic sampling juga memerlukan sampling frame, dan proses pemilihan sampel dilaksanakan secara random. Namun, berbeda dengan simple random sampling, random dilakukan hanya untuk memilih sampel pertama. Sedangkan pemilihan sampel kedua, ketiga dan seterusnya dilakukan secara sistematis berdasarkan interval yang telah ditetapkan.


Penggunaan interval dalam pemilihan sampel ini merupakan metode quasi-random, karena sebenarnya tidak dilaksanakan random secara murni. Namun, hasil penggunaan systematic sampling dengan simple random sampling ternyata tidak jauh berbeda (Neuman, 1997). Oleh karena itu, penggunaannya bisa saling menggantikan, kecuali untuk populasi dengan elemen yang tersusun secara terpola atau membentuk siklus. Pada populasi dengan elemen yang terorganisir membentuk pola atau siklus, systematic sampling justru menimbulkan bias.


Prosedur systematic sampling adalah, pertama, disusun sampling frame. Kedua, peneliti menetapkan sampling interval (k) dengan menggunakan rumus N/n; dimana N adalah jumlah elemen dalam populasi dan n adalah jumlah sampel yang diperlukan. Ketiga, peneliti memilih sampel pertama (s1)secara random dari sampling frame. Keempat, peneliti memilih sampel kedua (S2), yaitu S1 + k. selanjutnya, peneliti memilih sampel sampai diperoleh jumlah sampel yang dibutuhkan dengan menambah nilai interval (k) pada setiap sampel sebelumnya.


Contoh penggunaan systematic sampling untuk memilih 20 sampel dari populasi yang berisi 100 elemen, adalah sebagai berikut. Pertama, susun sampling frame. Kedua, tetapkan nilai k = 5. Ketiga, tentukan sampel pertama secara random, misal diperoleh 6. Selanjutnya kita dapat menetukan sampel berikutnya adalah 11, 16, 21, 26, 31, 36, 41, 46, 51, 56, 61, 66, 71, 76, 81, 86, 91, 96, dan 1.


Stratified sampling


Jika peneliti memiliki informasi tambahan bahwa populasi sebenarnya terdiri dari beberapa subpopulasi atau strata, maka stratified sampling lebih cocok untuk memilih sampel penelitian. Sebagai contoh, penelitian akan dilakukan terhadap peserta kelas metodologi penelitian sosial yang semuanya berjumlah 80 orang. Informasi tambahan bagi peneliti adalah bahwa dari 80 orang tersebut 60 orang adalah perempuan dan sisanya laki-laki. Jika peneliti menganggap informasi ini penting untuk analisa, maka stratified sampling lebih cocok digunakan untuk memilih sampel.


Prosedur penggunaan stratified sampling adalah sebagai berikut, pertama, peneliti membagi populasi kedalam beberapa subpoplasi atau strata berdasarkan informasi yang didapat. Kedua, peneliti merumuskan sampling frame pada masing-masing subpopulasi atau strata. Ketiga, peneliti memilih sampel pada masing-masing subpopulasi atau strata dengan menggunakan simple random atau systematic sampling. Dalam pemilihan sampel ini, proporsi jumlah sampel antar strata adalah sama dengan proporsi jumlah elemen antar strata. Dengan demikian, jika telah ditetapkan bahwa 20 orang akan dipilih sebagai sampel penelitian pada kelas metodologi penelitian social yang jumlah elemennya adalah 80 orang, maka perbandingan jumlah sampel antara perempuan dan laki-laki adalah 60:20. Berdasarkan proporsi tersebut, selanjutnya diperoleh sampel untuk perempuan adalah 15 orang dan untuk laki-laki adalah 5 orang.


Terkadang seorang peneliti memilih sampel dengan tidak melihat proporsi tersebut, sebagai contoh, pada kasus diatas ia memilih sampel laki-laki sejumlah 10 orang. Dalam kondisi demikian, maka hasil analisis tidak dapat digeneralisasikan secara langsung terhadap populasi tersebut. Selanjutnya, agar hasil analisis dapat digeneralisasikan, peneliti perlu melakukan pembobotan (weighting). Dalam contoh tersebut, karena jumlah sampel laki-laki dilipatduakan, maka jumlah sampel perempuan juga perlu dilipatduakan. Hasil akhir setelah pembobotan, jumlah sampel perempuan adalah 30 orang dan jumlah sampel laki-laki adalah 10 orang.


Cluster sampling


Cluster sampling disebut juga dengan area sampling. Cluster sampling ini digunakan ketika elemen dari populasi secara geografis tersebar luas sehingga sulit untuk disusun sampling frame. Keuntungan penggunaan teknik ini adalah menjadikan proses sampling lebih murah dan cepat daripada jika digunakan teknik simple random sampling. Akan tetapi, hasil dari cluster sampling ini pada umumnya kurang akurat dibandingkan simple random sampling.


Adapun cluster adalah suatu unit yang berisi sekumpulan elemen-elemen populasi. Namun, terhadap populasi yang lebih tinggi, Cluster sendiri berkedudukan sebagai elemen dari populasi tersebut. Seoarang peneliti yang menggunakan cluster sampling, pertama-tama memilih sampel yang berbentuk cluster dari suatu populasi. Selanjutnya, dari tiap-tiap cluster sampel tersebut, diturunkan sampel yang berbentuk elemen. Sebagai contoh, pemilihan sampel pegawai pada suatu departemen yang pegawainya tersebar pada berbagai unit kerja yang juga tersebar secara geografis. Pada kasus ini, peneliti dapat menjadikan unit kerja sebagai cluster dan selanjutnya secara random memilih beberapa unit kerja sebagai sampel. Pada setiap Unit kerja yang terpilih tersebut kemudian seluruh pegawai dijadikan sampel  penelitian.


(Operation Research Hamdy Taha, dan mas asropi)



ini juga ada yang punyanya pak Dadang, Dosen Fikom Unpar

Read more...

Metodologi Penelitian Kajian Teknik Industri

(tanggapan atas artikel di site Kuliahbersama.com, dengan judul Metodologi Penelitian Kajian Teknik Industri)

Menurut saya,

tipe pertama, adalah mahasiswa yang mencoba mengembangkan metode, atau mengaplikasikan suatu metode yang telah dikuasainya, yang digunakan dalam kasus-kasus tertentu. proses pengembangan metode baru tersebut bisa saja merupakan sebuah langkah inovasi, sehingga perlu diadakan sebuah simulasi masalah yang sesuai dengan metode pengembangannya tersebut. dapat disimpulkan bahwa mahasiswa ini bertipe "pembuat masalah"...

tipe kedua, adalah mahasiswa yang mencoba menggunakan ilmu yang telah dikuasainya, untuk diterapkan dalam permasalahan yang dialami oleh suatu instansi atau perusahaan. proses tersebut dilakukan dengan menganalisis permasalahan, dan menciptakan solusi sesuai dengan kemampuannya. dapat disimpulkan bahwa mahasiswa ini bertipe "pencari masalah"...

terlihat perbedaan yang jelas antara "pembuat masalah" dengan "pencari masalah"...

namun, kita harus melihat apa tujuan kedua tipe mahasiswa tersebut, yaitu sama-sama menyelesaikan sebuah permasalahan. tipe pertama mencoba untuk menyelesaikan masalah yang belum ada atau buatan, dan tipe kedua mencoba untuk menyelesaikan masalah yang ada saat ini...

mengenai mana yang benar dan seharusnya dilakukan pada Teknik Industri, menurut saya sama saja, karena hal tersebut sudah bukan acuan mengenai teknik industri, melainkan pilihan independen kita sebagai mahasiswa dalam menentukan tipe topik...

namun perkembangan teknik industri saat ini, seakan lebih mudah untuk menciptakan sebuah kasus simulasi, yang didukung dengan kemajuan teknologi dan komputerisasi. akhirnya, kita menjadi lebih leluasa dalam "membuat masalah"...

pada kenyataan di lapangan industri, hampir semua perusahaan seakan tertutup pada penentuan topik mahasiswa dengan tipe "pencari masalah", karena gengsi atau kemungkinan lain yang ingin menunjukkan bahwa perusahaannya seakan tidak ada masalah. akibatnya, mahasiswa tipe "pencari masalah" beralih menjadi "pembuat masalah"...

mana yang benar? anda sendiri yang menentukannya....

Read more...

KUESIONER

KUESIONER



Kuesioner adalah daftar pertanyaan tertulis yang ditujukan kepada responden
Jawaban responden atas semua pertanyaan dalam kuesioner kemudian dicatat/direkam
Kuesioner merupakan metode pengumpulan data yang efisien bila peneliti mengetahui
secara pasti data/informasi apa yang dibutuhkan dan bagaimana variabel yang
menyatakan informasi yang dibutuhkan tersebut diukur.


Sekali lagi penting melakukan dekomposisi variabel penelitian menjadi dimensi dan butir
penelitian dengan hati-hati.
Seringkali satu variabel didekomposisi menjadi beberapa dimensi dan selanjutnya satu
dimensi diuraikan menjadi beberapa item.

Jenis Pertanyaan dalam Kuesioner

a. Pertanyaan Terbuka: pertanyaan yang memungkinkan responden memberikan
jawaban sesuai dengan cara atau pendapatnya
Misal:
Sebutkan lima sifat pemimpin yang Anda sukai:

1. ……………………………
2. ……………………………
3. ……………………………
4. ……………………………
5. ……………………………


Bagaimana pendapat Anda tentang kepemimpinan supervisor Anda?
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________

Jawaban responden terhadap pertanyaan-pertanyaan terbuka akan sangat
bervariasi.
Pengelompokkan jawaban-jawaban serupa akan menjadi suatu pekerjaan yang
tidak mudah

b. Pertanyaan Tertutup: responden tinggal memilih jawaban di antara pilihan yang
sudah disediakan
Misal:
Atasan Anda mendelegasikan tugas dengan jelas:

1. Sangat Setuju Sekali
2. Sangat Setuju
3. Setuju
4. Tidak Setuju
5. Sangat Tidak Setuju


Kadangkala pertanyaan disajikan secara terbuka sekaligus tertutup
Misal:
Pekerjaan Anda:

1. Pegawai Negeri Sipil
2. TNI
3. Professional:
a. Dokter
b. Guru
c. Pengacara
d. lainnya (Sebutkan): ______________________
4. Pengusaha
5. Lainnya (Sebutkan): ___________________________


Pertanyaan-pertanyaan tertutup dapat dengan mudah dikodekan dan diolah untuk tahap
penelitian selanjutnya

Bentuk Pertanyaan

a. Pernyataan Positif
b. Pernyataan Negatif

Pertanyaan dalam kuesioner ditulis dalam bentuk PERNYATAAN bukan pertanyaan
Pernyataan Positif : pernyataan yang jawabannya SESUAI dengan harapan peneliti
Pernyataan Negatif : pernyataan yang jawabannya TIDAK SESUAI dengan harapan
peneliti

Misal: Jika ingin diketahui kinerja kasir sebuah toko swalayan

Pernyataan Positif (Contoh LSR)
Kasir di toko swalayan ini ramah:
1. Tidak Setuju 2. Setuju 3. Sangat Setuju

Pernyataan Negatif (Contoh LSR)
Kasir tidak sopan:
1. Sangat Setuju 2. Setuju 3. Tidak Setuju

Pengkodean atau pembobotan nilai jawaban:
Pada pernyataan Positif: nilai paling positif diberi bobot paling besar (karena paling
positif berarti paling sesuai harapan)
Pada pernyataan Negatif: nilai paling negatif diberi bobot paling besar (karena paling
negatif berarti paling sesuai harapan)

Idealnya dalam suatu kuesioner penelitian, komposisi bentuk pernyataan positif dan
negatif berimbang, misalnya dari 30 pernyataan dirancang terdiri dari 15 pernyataan
positif dan 15 pernyataan negatif.
Pernyataan positif dan negatif harus diletakkan secara bergantian
Dengan meletakkan pernyataan positif dan negatif bergantian, responden benar-benar
membaca pernyataan-pernyataan dengan teliti dan menjawab dengan benar

Teknik Pengukuran (Teknik Penskalaan)

Dua teknik pengukuran dengan kuesioner yang paling populer adalah:
a. Likert’s Summated Rating (LSR)
b. Semantic Differential (SD)

Likert’s Summated Rating (LSR)
LSR adalah skala atau pengukuran sikap responden
Jawaban pernyataan dinyatakan dalam pilihan yang mengakomodasi jawaban antara
Sangat Setuju Sekali sampai Sangat Tidak Setuju
Banyak pilihan biasanya 3, 5, 7, 9 dan 11
Dalam prakteknya yang paling sering digunakan adalah 5
Terlalu sedikit pilihan jawaban menyebabkan pengukuran menjadi sanagt kasar
Terlalu banyak pilihan jawaban menyebabkan responden sulit membedakan pilihan
Banyak pilihan ganjil juga menimbulkan masalah, responden yang malas/enggan akan
menjawab pilihan yang di tengah ( = jawaban netral)

Semantic Differential (SD)
Responden menyatakan pilihan di antara dua kutub kata sifat atau frasa
Dapat dibentuk dalam suatu garis nilai yang kontinyu, dan dapat diukur dalam satuan
jarak atau dalam bentuk pilihan seperti LSR

Sikap kasir (responden meletakkan jawaban di antara garis bilangan, nilai jawaban
kemudian diukur dalam cm)

Prinsip sifat positif diberi nilai paling besar dan sifat negatif diberi nilai paling kecil tetap
dipertahankan, demikian juga prinsip menggabungkan positif–negatif dan negatif−positif
secara bergantian

Validitas dan Reliabilitas Kuesioner

Kesalahan operasionalisasi variabel mungkin terjadi karena dimensi yang penting luput
direalisasikan menjadi butir pertanyaan dalam kuesioner

Kesalahan dapat diminimalkan dengan melakukan pengujian validitas dan reliabilitas
kuesioner

Validitas
Validitas mengacu pada apakah kuesioner benar-benar dapat mengukur apa yang ingin
diukur
Sebagian besar validitas diukur secara logika (subyekif), hanya validitas konstruk yang
dapat diukur secar matematika/statistika.

Jenis Validitas
a. Validitas Konstruk (Construct Validity)
Konstruk adalah penyusun atau elemen suatu konsep/variabel
Misal: Jika suatu konsep disusun berdasarkan 5 elemen tetapi dalam kuesioner hanya
diukur 3 elemen maka validitas konstruk kuesioner ini rendah
Ukuran validitas konstruk dinyatakan dalam koefisien korelasi (R) setiap butir pernyataan
dengan nilai total seluruh butir.
Valid tidaknya setiap butir kemudian dibandingkan dengan nilai kritik pada Tabel
Kolstoe, 1973

b. Validitas Isi (Content Validity)
Bertujuan memeriksa apakah butir-butir pertanyaan sesuai dengan pengetahuan aau
kemampuan responden.

c. Validitas Eksternal (External Validity)
Membandingkan kuesioner yang dibuat dengan kuesioner yang sudah dibakukan


d. Validitas Prediktif (Predictive Validity)
Mengukur apakah kuesioner dapat digunakan meramalkan perilaku di masa depan
Validitas prediktif diberi nilai tinggi jika apa yang diramalkan terbukti

e. Validitas Rupa (Face Validity)
Validitas tampilan kuesioner, sesuai dengan format

f. Validitas Budaya (Culture Validity)
Apakah butir-butir pernyataan dalam kuesioner sudah sesuai budaya atau kondisi
responden

Reliabilitas
Reliabilitas menyatakan derajat keandalan dan konsistensi kuesioner
Beberapa metode penghitungan reliabilitas, misalnnya:
a. Metode Test − Retest
b. Metode Test − Retest Paralel
c. Teknik Belah Dua (Split Half)
d. Analisis Diskriminan
Pada prinsipnya, semua metode perhitungan itu mengukur reliabilitas melalui koefisien
korelasi setiap butir pernyataan dengan total seluruh butir (sama dengan Validitas
Konstruk)

Uji Coba Kuesioner
Sebelum kuesioner benar-benar digunakan untuk mengumpulkan data, dilakukan uji coba
dengan menyebarkan kuesioner kepada kira-kira 30 responden
Hasil uji coba kemudian dignakan untuk menguji validitas dan reliabilitas
Butir-butir yang tidak valid atau tidak reliabel kemudian diperbaiki, diubah, atau jika
tidak memungkinkan dihilangkan dan selanjutnya kuesioner diuji kembali

Alat Bantu Pembuat Kuesioner

Metode perhitungan validitas dan reliabilitas ini dapat diaplikasikan dengan bantuan
program komputer (Misalnya EXCEL atau SPSS)
Kuesioner apat dibuat dengan pengolah kata atau dengan program-program komputer
lainnya yang memang dibuat untuk membuat kuesioner (Misalnya: EPI-INFO atau Lotus
Notes)
Pembuatan kuesioner dengan program komputer memungkinkan publikasi kuesioner
secara on-line di internet
Beberapa web di internet juga menyediakan fasilitas membuat kuesioner atau pooling)
on-line, misalnya web votepedia yang dibangun di atas teknologi Wikipedia .

(gunadarma.ac.id)


LINK


Uji validitas dan Reliabilitas dengan bantuan software SPSS dapat dilihat di SINI



Kumpulan Tutorial Stastitka di SINI

Langkah-langkah menyusun laporan penelitian di SINI

Read more...

Followers

Counter

Anda pengunjung ke :

  ©Template by Dicas Blogger.